menyemai Kisah - kisah penuh inspirasi fiksi maupun non fiksi /kisah nyata, kisah sukses, pengusaha sukses, jutawan, miliarder, perjuangan hidup/bisnis, penggugah semangat, ide, kreativitas, dan sukses mulia
Jumat, 25 Januari 2013
Kisah Sukses Reza Nurhilman, Sang Presiden Keripik Pedas Maicih
Tak pernah terbayangkan oleh Reza Nurhilman jika perkenalannya dengan seorang nenek tiga tahun lalu menjadi awal kesuksesannya berbisnis. Pemuda 23 tahun ini menceritakan bagaimana ia bisa menemukan resep keripik singkong "setan" Maicih, yang kini menjadi perbincangan hangat di dunia maya dan tenar di kalangan anak muda Bandung.
Sekitar 2008, Reza diajak oleh seorang temannya ke daerah Cimahi dan mencicipi keripik buatan si nenek yang enggan ia sebutkan namanya. "Saya cicipin keripiknya dan memang enak," kata Reza atau biasa disebut Axl, Presiden Keripik Maicih, saat berbincang dengan Tempo di salah satu kafe di Bandung.
Saat itu bungsu dari tiga bersaudara ini masih bekerja serabutan. Sesekali ia mengikuti pelatihan motivasi sumber daya manusia. Ia belum terpikir akan menggeluti bisnis itu. Baru pada Juni tahun 2009, Axl kembali mengunjungi rumah nenek itu. Ia melihat si nenek hanya membuat keripik pada saat-saat tertentu dan pemasarannya amat terbatas. Terlintas dalam pikirannya untuk membangun usaha menjual keripik.
"Saya menanyakan resep keripik buatannya dan nenek tidak keberatan saya juga membuat keripik dengan resep sama," ia menjelaskan.
Dengan bermodal Rp 15 juta, Axl mulai memproduksi keripik yang diberi merek Maicih sebanyak 50 bungkus per hari. Ia membuat perbedaan tingkat kepedasan dari level 1 hingga level 5. "Saya mulai ngider memasarkan keripik dengan memberikan sampel ke teman, saudara, memanfaatkan Twitter dan Facebook," katanya.
Pada 11 Februari 2010, di Paris Van Java Mall, Bandung, digelar acara trademark market. Kesempatan ini digunakan Axl untuk meluaskan pasar keripik Maicih. Ia merasa terbantu oleh berlangsungnya acara itu. Pasarnya bertambah. "Artis dan para pejabat jadi tahu dan penasaran dengan keripik Maicih," katanya.
Nama Maicih, kata mahasiswa Manajemen Universitas Maranatha Bandung ini, diambil dari istilah dompet kecil yang suka dipakai ibu-ibu. Nama ini juga mengundang rasa penasaran konsumen karena terdengar nyeleneh. Pemasarannya dibantu oleh teman-temannya di sekolah menengah atas dan saudaranya. Walhasil, peminat keripik Maicih mulai banyak. "Awalnya karena penasaran dengan nama Maicih-nya," ucapnya.
Dalam sebulan, respons atas keripik itu mulai bermunculan. Kebanyakan mengomentari penyedap rasa yang amat dominan. "Saya langsung memperbaikinya karena enggak mau kehilangan pelanggan," ujarnya. Axl juga mulai mengenal selera pelanggan. "Lebih banyak yang suka keripik dengan kepedasan dari level 3 sampai 5," katanya. "Ada juga yang level 10, sangat pedas, tapi itu limited edition, gak diproduksi setiap hari."
Dalam menjalankan usahanya, Axl menerapkan prinsip totalitas, loyalitas, dan sinergi. Ia berharap kepercayaan pelanggan terjaga dan kekompakan tim pemasaran tetap berlangsung. Loyalitas terhadap keripik Maicih ini mendorong mereka membentuk satu komunitas yang bernama Icihers. Komunitas ini kebanyakan perempuan. Mereka amat aktif menyebarkan informasi tentang keripik Maicih.
Axl mengucapkan rasa terima kasihnya kepada kolega, saudara, dan para Icihers yang telah loyal memasarkan keripiknya. "Sehingga semakin banyak orang yang 'tericih-icih' (istilah ketagihan keripik Maicih)," ujarnya.
Namun bukan berarti perjalanan bisnis Axl selalu berjalan mulus. Pada November tahun 2010, keripik Maicih tidak diproduksi akibat kurangnya alat penggorengan yang masih memakai tungku. "Pelanggan makin banyak tapi kapasitas penggorengan kurang," kata dia. Selama sebulan ia harus memperbaiki tunggu itu.
Saat ini dalam sehari ia bisa memproduksi 2.000 bungkus. "Selalu habis," ujar Axl. Ia berencana akan menambah jumlah produksi mencapai 10 ribu bungkus per hari. Axl, yang berasal dari keluarga ekonomi kurang mampu, tak menyangka usahanya bakal sesukses ini. Saat ini omzet penjualan keripik Maicih dalam sehari mencapai Rp 22 juta dan dalam sebulan bisa mencapai 7 milyar. Harga keripik dibanderol antara Rp 11 ribu dan Rp 15 ribu untuk luar Bandung.
Pelanggan di luar Bandung juga bisa memesan Maicih melalui sistem online di ngiderngiler.com. Dalam waktu dekat, Axl juga akan membuat wardrobe Maicih berupa kaus dan merchandise. "Saya ingin Maicih menjadi ciri khas Jajanan Bandung," kata dia.
Salam Sukses!
follow twitter saya ya: @inspirasi_mulia
Kamis, 24 Januari 2013
Kisah Pengusaha Sukses Hendy Setiono, Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi
Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa? Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan. Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy.
Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia. Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.
Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00. Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan. Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang di jual beli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota. “Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya. “Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya. “Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya. Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya. Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak. Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya. Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut. Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya. Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.
Salam Sukses!
follow twitter saya ya @inspirasi_mulia
Rabu, 23 Januari 2013
Kisah Sukses Hary Tanoesoedibjo, “Si Raja Bisnis Multimedia”
Bertolak dari dunia investasi, saat ini dirinya menjadi tokoh kunci dalam pengembangan perusahaan multimedia terbesar saat ini, yaitu Grup MNC. Kemampuan utamanya adalah mengakuisisi perusahaan bermasalah dan membenahinya. Selepas meraih gelar Master of Business Administration dari Ottawa University, Ottawa, Kanada, pada 1989, dirinya langsung terjun ke dalam dunia bisnis. Dialah Hary Tanoesoedibjo, CEO Grup MNC (Media Nusantara Citra) yang memiliki julukan “Raja Bisnis Multimedia” saat ini.
Pada saat memulai, Hary langsung terjun ke dalam dunia sekuritas dengan mendirikan PT Bhakti Investama. Sejak mengenyam pendidikan, Hary cenderung sudah memiliki komitmen untuk terjun kedalam dunia keuangan. Bidang studi keuangan dan aset manajemen yang gelutinya dalam pendidikan, menurut Hary sangat menunjang keputusannya untuk langsung memulai bisnis selepas lulus. Ia melihat, Indonesia memiliki banyak potensi yang besar karena sumber dayanya juga besar. “Saya selalu percaya negara yang kaya sumber daya dan jumlah penduduknya besar, bila dikelola dengan baik, maka akan menjadi negara besar,” ucapnya.
Dibawah bendera Bhakti Investama, Hary melakukan bisnis dalam manajemen investasi dengan membeli kepemilikan sebuah perusahaan, membenahinya, kemudian menjualnya kembali. Kemampuan inilah yang kerap dinilai orang sebagai kunci sukses dari keberhasilan dirinya. Hary mampu menata kembali perusahaan yang sudah kusut alias bermasalah. Sejak terjun kedalaam dunia bisnis investasi, hingga tahun 1997 ia menjadi pemain dalam bursa efek. Perusahaannya semakin berkembang dengan ukuran yang lebih besar. Hingga akhirnya, krisis melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Namun, ia berkata, “Setiap krisis adalah masalah, dan disitulah ada kesempatan.” Saat krisis inilah ia malah memulai titik poin investasi ke bidang lain secara permanen. “Jadi bukan hanya membeli perusahaan, diperbaiki, kemudian dijual lagi,” ucapnya.
Menurutnya, saat itu banyak perusahaan yang ditawarkan sangat murah oleh sejumlah bank karena masalah kredit macet. Ada pula perusahaan itu dialihkan kepada pemerintah melalui BPPN. Bahkan, transaksi juga terkadang dilakukan secara bilateral karena pemiknya ada keperluan atau membutuhkan. “Yang jelas, terjadi situasi yang tidak menentu. Karena itu saya putuskan untuk melakukan ekspansi. Disitu titik terangnya,” ucapnya. Selama 1998 – 2001, dirinya mengaku cukup aktif dalam melakukan merger. Hingga dirinya mengambil keputusan untuk melakukan bisnis yang permanen. Akhirnya, sekitar tahun 2000 dirinya mengambil alih PT Bimantara Citra Tbk dan kemudian menjadi CEO pada 2002.
MEDIA MENJADI PORSI BESAR
Di Bimantara, iapun menunjukkan keahliannya dalam mengelola perusahaan yang berkondisi sulit. Menurutnya, Bimantara memiliki banyak cabang bisnis dan ia harus memilih. Lagi-lagi, ia harus mengambil sikap. Karena ada persaingan bisnis ia memilih untuk membuka investasi terhadap pihak asing. Setelah itu, dirinya fokus untuk masuk kedalam cabang bisnis yang dianggapnya potensial. “Jadi bukan saya lepas semua.”
Ditahun 2002 itulah ia membentuk MNC Grup. Disinilah ambisinya untuk menjadi menjadi jawara bisnis media penyiaran dan telekomunikasi terbentuk. Pada saat awal, produk utama dari grup perusahaannya ini adalah televisi nasional RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Menurutnya, tantangan pengembangan bisnisnya kali ini adalah keharusan untuk berbagai aset-aset lain.
Di bawah naungan PT Media Nusantara Citra (MNC), tidak sampai lima tahun, Hary berhasil menguasai saham mayoritas. Saham MNC sendiri awalnya 99,9% dimiliki oleh Bimantara Citra, grup usaha yang dahulunya dimiliki oleh Bambang Trihatmodjo, putra mantan Presiden Soeharto. Sejak memiliki Bimantara, Hary kian agresif di bidang media. Ditambah lagi, berkat kemampuannya untuk menentukan perusahaan-perusahaan media mana yang berpotensi untuk berkembang dan mengakuisisinya.
Saat ini, dibawah Grup MNC, bisnis media yang dimilikinya menjadi bermacam-macam. Antara lain adalah tiga stasiun TV nasional; RCTI, Global, dan MNC Tv dengan pangsa pasar 37 % khalayak nasional. Selain itu, dirinya pun ekspansi 16 televisi lokal dan beberapa tv berlanganan dengan merek Indovision, Top TV dan Oke Vision. Ketiga televisi berlangganan yang dimilikinya, diakui Hary memiliki pangsa pasar sebesar 78% pemirsa nasional dari seluruh pelanggan televisi berlangganan. Selain itu, ia juga memiliki media cetak bernama Koran SINDO (Seputar Indonesia), sejumlah majalah, media online, serta 34 radio. Dari keseluruhan media yang dimiliki karyawan yang dimilikinya sejumlah 13500 orang. “Awalnya hanya 1300 karyawan,” diakuinya.
Selama 8 tahun hingga 2010 saat ini, Hary mengakui, nilai pengembangan bisnisnya terus berkembang. Contohnya RCTI, ketika mengembangkannya pertama kali pada tahun 2002 ia memerlukan investasi sebesar Rp 900 miliar, itupun dari segi komersial, variasi media, serta karyawan. Namun, saat ini angkanya meningkat menjadi Rp 7 triliun. Tidak hanya dibisnis media, Hary juga mengembangkan sayap bisnisnya dalam bidang jasa keuangan, multifinance, dan asuransi jiwa. Bidang-bidang terakhir dilakukan karena menurutnya ia tidak ingin melupakan bidang keuangan yang menjadi titik tolak bisnisnya. Ia juga bergelut di bidang properti, misalnya saja Plaza Indonesia, Grand Hyat, dan beberapa gedung perkantoran. Ditambah lagi bidang pertambangan, khususnya batubara, dan terakhir produksi pupuk. Namun,kata Hary, bisnis terbesar yang dimilikinya saat ini adalah media.
Menurutnya sekitar 50% dana investasi yang dimilikinya ada di bisnis ini. Hary menilai, bila dilihat dari karakteristik Indonesia, 80% pendukung ekonomi nasionalnya adalah domestik. Jadi, sebenarnya tidak tergantung pada pasar internasional. Dari sinilah bisa digambarkan dimana bidang yang menjanjikan dan harus digeluti, yaitu yang berhubungan dengan masyarakat luas yang didalamnya terdapat konsumen, infrastruktur, telekomunikasi, sumberdaya (minyak, gas, dan tambang), kehutanan, perikanan, dan perkebunan.
Dasarnya adalah konsumsi. “Karena semua aktifitas bisnis dimanapun dan industri manapun, semuanya terkait dengan keuangan.” Itu pula alasan mengapa ia memilih media sebagai bidang bisnisnya. Kata Hary, bila berbicara media maka kita harus berbicara tentang iklan. Perusahaan yang beriklan ke masyarakat, selalu terkait dengan kebutuhan konsumsi dasar. Itulah kenapa jasa pengembangan bisnisnya diarahkan ke media. Dalam memimpin MNC Group, ia memiliki prinsip integrasi media yang saling bersinergi. Menurutnya, disinilah terjadi ekonomi multi kemampuan. Contohnya dalam pengembangan TV, satu tower bisa dipakai bersama-ssama, dalam penjualan iklan dilakukan sistem paket sesama TV dan media cetak. “Dalam bidang industri apapun, intinya kita harus terdepan dalam segala hal dan berbeda. Selain itu harus memiliki isi yang beragam,” ujarnya.
FOKUS DAN KONSISTEN
Pria kelahiran 26 September 1965 ini mengatakan, strategi khusus yang dimilikinya dalam dunia wirausaha adalah kemampuan. Hary termasuk orang yang sangat mengedepankan pendidikan. Menurutnya, bila seseorang berpendidikan, memiliki konsep yang bagus dan benar, maka seseorang itu akan berkembang. Bila seseorang masuk kedunia sumberdaya dan kebutuhan dasar, maka banyak bidang yang bisa dikembangkan. Kompetisi itu biasa, dan kita kurang berkompetisi itu relatif. Kita harus tahu akan kekuatan yang kita miliki.
Selain itu, ada tiga hal yang menjadi acuannya untuk menjalani bisnis, yaitu visi,integritas, dan konsistensi . Setiap orang harus memiliki visi, karena dengan visi, seseorang akan mengetahui tujuan yang akan dicapainya. Ketika membangun Bhakti Investama, ia selalu menekankan tentang strategi ini kepada teman-temannya. “Seperti kita naik kendaraan, kita tahu mau menuju kemana,” ucapnya. Katanya, banyak pengusaha muda di Indonesia yang memiliki perencanaan namun gagal. Disinilah perlunya visi yang jelas. “Kita coba lalu tidak berhasil, namun kita enggan untuk mempelajari mengapa kita tidak berhasil. Kemudian, kita malah mencoba hal lain yang kemudian gagal lagi. Itu yang tidak bagus. Itu sama saja buang-buang waktu. Sedangkan seseorang yang makin berumur keberanian melangkahnya itu kurang. Padahal, sangat bagus bila kesuksesan dimulai sejak umur dibawah 40,” jelas Hary.
Sedangkan, integritas adalah berbicara tentang komitmen dan kepercayaan. Ia mengakui tidak pernah keluar dari komitmennya. Contohnya di waktu menjalani pendidikan. Dirinya telah berkomitmen untuk terjun dibidang keuangan. Karena itulah, jurusan yang diambilnya selalu berhubungan dengan dunia keuangan. “Banyak orang yang saat ini pekerjaannya tidak sesuai dengan pendidikannya.”
Kemudian konistensi. Menurutnya, dalam bertindak, seseorang harus mampu memaksimalkan kapasitasnya. Banyak orang mencoba di tengah jalan dengan segala hal. Permasalahannya, belum sampai ke tujuan yang akan dicapai, namun seseorang itu sudah menyerah. “Banyak orang tidak sabaran dan maunya pasti cepat. Padahal sukses itu butuh proses. Kesuksesan dicapai dari sukses-sukses kecil. Makanya kita perlu persisten dan konsisten.”.
Dalam 5 tahun kedepan, dirinya memiliki ambisi untuk eksistensi di kawasan Asia. “Kalau ditanya tujuan saya, maka jawabannya ingin menjadi pemain regional. Menurutnya, gerakan ekonomi global, kedepannya akan mengarah ke Asia. Lebih dari 60% penduduk dan ekonomi dunia ada di Asia. Artinya, aktivitas bisnis itu perputarannya terjadi di Asia,” ucapnya. Karena itulah, tujuan bisnisnya pertamakali adalah Indonesia, dan akan berkembang ke Asia.
Salam Sukses!
follow twitter saya ya: @inspirasi_mulia
Langganan:
Postingan (Atom)


