Senin, 28 Januari 2013

Kisah Sukses Saptuari Sugiharto, Pemilik Kedai Digital Corp



Dari hanya sebagai penjaga tas, ia kini memiliki perusahaan dengan 31 cabang di 21 kota dan menghidupi 200 karyawan. Modal puluhan juta berkembang menjadi omzet miliaran rupiah. Bermodalkan kegiatan mengamati dan meniru, dan juga memodifikasi, usahanya menggurita sampai ke pelosok nusantara.

Adalah Saptuari Sugiharto (30) yang memelopori pendirian kedai tersebut pada 2005. Tak ada strategi bisnis yang rumit atau modal awal yang besar ketika pria yang akrab disapa Saptu ini memulai usahanya membuka Kedai Digital. Sebagai anak muda yang cukup gaul, konsep usahanya pun terdengar nge-pop dan sederhana. Terinspirasi dari  aktivitas gaul bersama teman-temannya di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, yaitu “ATM” dan “PISS”. Ini konsep yang dilahirkannya sendiri. Konsep ini dipegang teguh olehnya, hingga pria bertubuh tegap ini menjadi salah satu wirausahawan muda potensial di tanah air.

“ATM” yang dimaksud adalah Amati, Tiru, dan Modifikasi, sedangkan “PISS” merupakan kepanjangan dari Positive Thinking, Ikhtiar dan Ikhlas, Sedekah, dan Sukses dunia akhirat. Di tengah menjamurnya kreativitas anak muda di tanah air, serta maraknya barang dan jasa yang ditawarkan di pasar, konsep “ATM” Saptu ternyata ampuh.

Ia, misalnya, tidak perlu menciptakan produk baru, yang mungkin membutuhkan dana miliaran rupiah untuk riset dan pengembangan produk (R&D). Dia cukup mengamati produk yang telah ada 6 pasaran dan diminati masyarakat, kemudian menirunya. Tetapi tidak meniru 100 persen, melainkan memberikan sentuhan modifikasi, sehingga produk yang dihasilkan benar-benar berbeda. Tak heran bila produk-produk Kedai Digital cukup diminati masyarakat.

“Kalau Saptuari hanya meniru saja, ia pun akan ditiru dan dapat tamat sekejap”

TERINSPIRASI TAWURAN
Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptu telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah, beberapa usaha dijalaninya. Mulai dari menjaga tas di koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker hingga sales dari agen kartu seluler dan rokok. Perubahan besar terjadi pada 2004, ketika Saptu bekerja sebagai event organizer disebuah perusahaan di Yogyakarta. Ia terheran-heran melihat salah insiden dalam konser Dewa di mana para penggemar ribut sampai memicu tawuran hanya karena berebut merchandise sang artis.

Dalam benak Saptu, merchandise berlogo atau bergambar sele­briti seperti t-shirt, pin, topi dan lain sebagainya itu, sebetulnya dapat dibuat dan diperbanyak sendiri. “Jadi, tak perlu tawuran segala. Dari situ saya pikir, merchandise juga sebenarnya bisa dipersonalisasi untuk setiap orang, dan bisa jadi hadiah,” ungkapnya.

Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 mantan marketing Swaragama FM itu mengambil langkah berani. Ia mendirikan Kedai Digital – perusahaan yang memproduksi barang-barang cinderamata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Untuk modal awal, ia rela menjual motor dan meminta orangtua menggadaikan rumah keluarga, akhirnya terkumpul modal sebanyak Rp 28 juta.

Butuh waktu enam bulan baginya untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Prioritas awal, ia mesti mencari mesin digital printing. Beruntung, mesin itu ditemukannya di Bandung. Ia juga mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendiri. Mulailah dia memproduksi beberapa merchandise. Pada mulanya masih terbatas pada kaos dan pin. Ketika mulai stabil, Saptu memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni, yang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, ia meminta bantuan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain, yang juga tersebar di kota itu. Pada awalnya, target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa.

Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp 400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp 900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp 1,5 miliar. Bermula dari sebuah ­kios kecil di daerah Gejayan, Yogyakarta, kini Kedai Digital memiliki outlet di 21 kota di tanah air. Di antaranya di Jogyakarta, Solo, Semarang, , Magelang, Kudus, Klaten, Purwokerto, Sukoharjo, Wonol Madiun, Malang, Surabaya, Jember, Balikpapan, Sukabumi, Denpasar, Medan, Padang, Batam, Pekanbaru, dan Banda Aceh.

Narsisisme Bisnis Merchandise Kedai Digital
SAPTUARI SUGIHARTO memilih menaruh rapat-rapat ijazahnya dari Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, demi menumbuhkan naluri bisnisnya. Wirausaha yang telah dirintisnya kuliah – mulai dari berjualan stiker, menjaga koperasi, sampai berjualan ayam potong – membuat insting-nya terhadap bisnis lebih terarah. Itu juga yang menjadi salah satu modal utamanya untuk memulai bisnis personal merchandise dan digital printing, Kedai Digital. Berdiri lima tahun lalu ini awalnya hanya memproduksi mug, pin, dan kaos yang dicetak eksklusif dengan foto diri pemesan. Tak disangka, usaha ini membuahkan hasil dan memperoleh pengakuan dari berbagai pihak. Saat ini Kedai Digital telah berkembang menjadi 31 kedai dan beromzet puluhan juta rupiah tiap bulan­nya. Keberhasilan ini merupakan buah dari prinsip Saptu, untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain.

Di Yogyakarta, Saptu juga mendirikan Kedai Digital Supply. Pabrik inilah yang menyediakan semua bahan baku untuk prses pembuatan merchandise, yang juga dikirimkan kepada semua partner Kedai Digital. Kini, tak kurang dari 30 mitra di 30 kota turut berkerja membesarkan Kedai Digital. Bile dihitung-hitung, dari hanya mempekerjakan dirinya sendiri dan dua rekannya, Kedai Digital kini mampu menghidupi lebih dari 200 karyawan.

UNIK DAN PERSONA
Saptu mengakui, edukasi pasar mengenai produk Kedai Digital tidak berlangsung kilat. Edukasi pasar berjalan dengan sendirinya. Pada tahun kedua, nampaknya edukasi pasar mulai melembaga. Hal itu terlihat dari omzet penjualan yang mulai naik. Setelah lewat tahun ketiga, kurva penjualannya lebih tinggi lagi. Itu terjadi setelah meraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2007. Waktu itu, ia dan Kedai Digital mulai banyak di-blow up oleh media. Karen, itulah makin banyak orang yang tahu tentang Kedai Digital.

Produk-produk unik dari kedainya, menurut Saptu, memang mengedepankan sentuhan pribadi. Bahkan, bisa juga untuk membangun sisi narsis banyak orang. Apalagi Sekarang banyak orang yang berpikir untuk membuat atau memilikimerchandise barang yang unik. Selain lebih personal, dia juga menekankan sisi kreatif. Beragam produk hasil produksi bisa dimanfaatkan untuk perorangan maupun kelompok hingga perusahaan sekalipun. Tak ayal ini menjadi media ekspresi paling gres khususnya bagi para. remaja. Penyebabnya tak lain adalah kemudahan untuk memiliki satu di antara beragam produk yang ditawarkan alias boleh memesan satu saja. Bahkan, setiap orang bisa saja memesan merchandisesemaunya, sesuai slogan Kedai Digital, “Bikin Mug 84 Satoe Sadja atau Bikin Merchandise Semau Kamu”.

Saptu juga tak mau hanya berhenti di situ. “Kami terus melakukan inovasi. Contohnya foto keramik. Dulu keramik hanya untuk lantai. Sekarang, keramik bisa juga jadi jam dinding dan dicetak foto di atasnya,” kata putra Yogyakarta kelahiran 8 September 1979 ini. Sekarang, produk foto keramik jadi produk favorit. Jadi foto di cetak di atas keramik yang biasanya untuk lantai. Keramik berfoto itu juga bisa dijadikan jam dinding. Kapasitas produksi Kedai Digital sendiri beragam untuk setiap jenis produk. Untuk foto keramik, misalnya, kapasitas produksinya bisa mencapai lebih dari 8.000 per bulan Sedangkan mug mencapai sekitar 15.000 mug per bulan.

Usaha Kedai Digital terus berlanjut. Baru-baru ini misalnya Kedai Digital tahun ini mengenalkan brand baru berupa Kedai Digital Cutting. Bisnis ini lebih spesifik, yaitu berupa pembuatan kaos. Uniknya, konsumen bisa memesan desain dan tulisan sesuai selera meski hanya satu kaos saja. “Di Kedai Cutting siapa pun bisa memesan kaos semaunya. Kata-katanya silakan mau bikin yang lucu atau apa pun. Desainnya pun terserah,” lagi-lagi Saptu menyerahkan keputusan kepada pelanggannya yang kebanyakan anak muda – yang memang banyak maunya.

Kedai Digital Cutting ini dalam sekejap mendapat respons luar biasa dari anak-anak muda. Tidak sedikit pasangan anak muda yank membuat kaos dengan tulisan dan warna yang sama. Kemudian dan kebebasan memilih desain, warna, dan tulisan ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri. Saptuari juga membuka kesempatan untuk para investor yang ingin memiliki usaha seperti ini dengan sistem kemitraan Business Oportunity (BO). Saptuari berharap, kehadiran konsep bisnis ini anak muda bisa mengekspresikan kreativitasnya di kaos. “Mereka bisa mengekspresikan kreasinya lewat kaos, sehingga bisa diasah,” katanya.
Ide sepertinya tak akan pernah hilang dari benak Saptu. Dengan segala kreativitas dan upaya menjalankan kemitraan dengan baik, tak heran bila Saptuari – lulusan Jurusan Perencanaan Pengembangan Wilayah Fak. Geografi Universitas Gadjah Mada (2001) – dianugerahi Indonesia Small & Medium Business Entrepreuner Award (ISMBEA) pada Agustus 2008.

"Saya ingin berpesan, jadilah mahasiswa yang kreatif dan tidak hanyu berpangku tangan. Mulailah berani berwirausaha tanpa harus menunggu diwisuda."

salam sukses!
follow twitter saya ya @inspirasi_mulia

Minggu, 27 Januari 2013

Kisah Sukses Mark Zuckerberg, Sang Pendiri Facebook dan miliarder termuda di dunia


Sejak muda sudah keranjingan komputer. Kini jadi anak muda terkaya. Inilah kisah perjalanan hidupnya menuju sukses.Ketika di Harvard sempat jadi pemberontak dengan membuka website data mahasiswa, ia pun diperkarakan. Lalu Facebook yang dibuatnya menggoncangkan dunia dan membawanya menjadi anak muda terkaya di dunia. 

Zuckerberg baru akan genap berusia 24 tahun pada Mei ini. Ia tak menyelesaikan kuliah di Harvard University tetapi berhasil membangun Facebook yang membuatnya mengumpulkan kekayaan sampai Rp 13,5 triliun. Siapapun akan menyebutnya luar biasa. “Dia adalah billionaire termuda di dunia saat ini, dan kami yakin ia adalah billionaire ter muda sepanjang sejarah yang mengumpulkan sendiri kekayaannya,” ujar Matthew Miller, associate editor Majalah Forbes.

Awalnya Direktori Mahasiswa Zuckerberg lahir di kawasan bernama Dobbs Ferry, Westchester County, kota New York. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara dari orang tua pasangan dokter gigi – psikiater. Sejak kecil Zuckerberg suka mengu tak-atik komputer, mencoba berbagai program komputer dan belajar membuatnya. Ayahnya sendiri membelikannya komputer sejak ia berusia delapan tahun.  


Di Harvard inilah Zuckerberg menemukan ide membuat buku direktori mahasiswa online karena universitasnya tak membagikan facebook (buku mahasiswa yang memuat foto dan identitas mahasiswa di universitas itu) pada mahasiswa baru sebagai ajang pertemanan di antara mereka. Namun setiap kali ia menawarkan diri membuat direktori itu, Harvard menolaknya. “Mereka mengatakan punya alasan untuk tidak mengumpulkan informasi (mahasiswa) ini,” ujar Zuckerberg kemudian.

Meski ditolak ia selalu mencari cara untuk mewujudkannya. “Saya ingin menunjukkan kalau hal itu bisa dilakukan,” lanjutnya soal kengototannya membuat direktori itu.

Proyek pertamanya adalah CourseMatch (www.coursematch.com) yang memungkinkan teman-teman sekelasnya berkomunikasi satu sama lain di website tersebut. Suatu malam di tahun kedua ia kuliah di Harvard, Zuckerberg menyabot data mahasiswa Harvard dan memasukkannya ke dalam website yang ia buat bernama Facemash. Sejumlah foto rekan mahasiswanya terpampang di situ. Tak lupa ia membubuhkan kalimat yang meminta pengunjungnya menentukan mana dari foto-foto ini yang paling “hot”. Pancingannya mengena. Dalam tempo empat jam sejak ia meluncurkan webiste itu tercatat 450 orang mengunjungi Facemash dan sebanyak 22.000 foto mereka buka. Pihak Harvard mengetahuinya dan sambungan internet pun diputus. Zuckerberg diperkarakan karena dianggap mencuri data. Anak muda berambut keriting ini pun meminta maaf kepada rekan-rekan yang fotonya masuk di Facemash. Tetapi ia tak menyesali tindakannya. “Saya kira informasi seperti itu harus tersedia (online),” ujamya.

Alih-alih kapok ia malah membuat website baru dengan nama Facebook (www.thefacebook.com). Website ini ia luncurkan pada Februari 2004. Facebook merupakan penyempurnaan dari Facemash. Sasarannya tetap sebagai tempat pertemuan sesama mahasiswa Harvard. Dalam penjelasan di website-nya sekarang disebutkan bahwa Facebook adalah suatu alat sosial untuk membantu orang berko munikasi lebih efisien dengan rekan, keluarga, atau rekan kerjanya. Facebook menawarkan navigasi yang mudah bagi para penggunanya. Setiap pemilik account punya ruang untuk memajang fotonya, teman-temannya, network, dan melakukan hal lainnya seperti bisa berkirim pesan dan lain sebagainya.

Banyaknya aplikasi yang bisa digunakan oleh anggotanya membuat Facebook digandrungi banyak orang. Konon hingga saat ini sudah lebih dari 20.000 aplikasi dimasukkan ke dalam Facebook yang bisa digunakan para anggotanya. Setidaknya 140 aplikasi baru ditambahkan ke Facebook setiap harinya dan 95% pemilik account Facebook telah menggunakan minimal satu aplikasi.

Dalam tempo empat bulan Facebook sudah bisa menjaring 30 kampus. Hingga akhir 2004 jumlah pengguna Facebook sudah mencapai satu juta.

Pengguna Facebook terus meningkat. Malah ada sejumlah orang yang tak lagi jadi mahasiswa atau yang masih di sekolah ingin bergabung. Tingginya desakan ini membuat Zuckerberg dan kawan-kawan memutuskan Facebook membuka jaringan untuk para siswa sekolah menengah (di sini SMU) pada Sep tember 2005. Tak lama kemudian mereka juga membuka jejaring para pekerja kantoran. Kesibukan yang luar biasa ini membuat Zuckerberg harus memutuskan keluar dari Harvard. “Apa yang saya inginkan sudah ada di tangan. Saya tidak ingin punya ijazah kemudian bekerja. Menurut saya, pekerjaan hanyalah untuk orang-orang yang lemah,” ujarnya pada Majalah Current.


Zuckerberg dan kawan-kawan kemudian mengembangkan Facebook lebih jauh lagi. Pada September 2006 Facebook membuka pendaftaran untuk jejaring umum dengan syarat memiliki email. Sejak itulah jumlah anggota Facebook melesat.

Saat ini jumlah anggota aktifnya mencapai 70 juta di seluruh dunia. Jejaring yang dihim­punnya mencapai enam juta jaringan (ke lompok pertemanan) meliputi 55.000 jaringan berdasarkan demografi, pekerjaan, sekolah, kolegial, dan sebagainya. Setiap harinya ada 14 juta foto di-upload (dimasukkan ke Facebook). Dan dalam hal jumlah trafik pengakses Facebook menjadi website teraktif ke-6 di dunia dan menjadi website jejaring sosial kedua terbesar versi camScore.

Jual Saham Jadi Kaya, Jumlah anggota Facebook yang jutaan or ang itu menjadi tambang emas yang meng giurkan. Zuckerberg dan kawan-kawan pun menangkap peluang bisnis yang besar. Karena itu ketika jumlah user-nya melebihi satu juta mereka menggandeng Accel Part ners, perusahaan modal ventura, untuk membiayai pengembangannya. Modal yang ditanamkan adalah US$ 12,7 juta. Ini adalah investasi kedua yang masuk ke Facebook setelah sebelumnya (Juni 2004) men­dapatkan dan dari pendiri PayPal sebesar US$ 500.000. Pembenahan pertama dengan tambahan modal itu adalah dengan meng ganti domain-nya dari www. thefacebook. corn menjadi www.facebook.com pada Agustus 2005. Setelah itu jangkauan keanggotaannya diperluas menjadi internasional. Hingga Desember 2005 jumlah anggotanya sudah mencapai 5,5 juta.

Meski jumlah user-nya meningkat tajam pada tahun 2005 disebutkan Facebook mengalami kerugian sampai US$ 3,63 juta. Facebook kemudian mendapatkan dana sebesar US$ 25 juta dari Greylock Partners dan Meritech Capi tal Partners. Dana itu digunakan untuk meluncurkan versi mobile-nya.

Pada September 2007 Microsoft melakukan pendekatan dan menawarinya membeli 5% saham senilai sekitar US$ 300 juta hingga US$ 500 juta. Jika nilai itu disetujui maka nilai kapitalisasi Facebook sudah mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 10 miliar atau sekitar Rp 54 triliun hingga Rp 90 triliun. Namun Microsoft akhirnya mengumumkan hanya membeli 1,6% saham Facebook dengan nilai US$ 240 juta pada Oktober 2007. Transaksi ini menunjukkan nilai kapitalisasi Facebook ternyata lebih tinggi yaitu sekitar US$ 15 miliar (sekitar US$ 135 triliun).

Setelah itu sejumlah tawaran mengepung Facebook. Li Ka-shing disebut-sebut ikut menginvestasinya sekitar US$ 60 juta pada November 2007. Lalu ada berita yang menyebutkan Viacom, Yahoo, Google, dan sebagainya pun ikut menawar untuk membeli Facebook. Sejauh ini Zackerberg mengatakan Facebook tak akan dijual.

Melesatnya bisnis Facebook membuat Zackerberg menampuk kekayaan yang luar biasa. Majalah Forbes menyebutkan kekayaan Zackerberg sendiri mencapai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. Jangankan untuk anak seusia Zackerberg, untuk orang dewasa pun harta sebanyak itu tentu jumlah yang luar biasa besar. Maka wajar jika majalah itu menobatkannya sebagai The Youngest `Self-made’ Billionaire on the Planet.

Prestasi yang diraih Zackerberg tak benar -benar mulus. Sejumlah perkara ia dapatkan sehubungan dengan Facebook. Termasuk dari rekannya di Harvard yang menyebutkan rancangan Facebook sebenarnya tiruan dari ConnectU. Namun Zackerberg tetap bergeming bahwa Facebook merupakan hasil karyanya. Meskipun ConnectU kalah dalam persidangan pertama, perusahaan ini mendaftarkan gugatan baru pada Maret 2008.

Kontroversi juga datang dari negara-negara seperti Myanmar, Bhutan, Syria, Arab Saudi, Iran dan sebagainya yang menyebutkan kalau Facebook mempromosikan serangan terhadap otoritas pemerintahannya sehingga akses terhadap Facebook di negara tersebut ditutup.

Di tengah sejumlah kontroversi itu, nama Facebook dan Mark Zuckerberg tetap digan drungi banyak orang. Zuckerberg sendiri di tengah kepopuleran namanya dan jumlah kekayaan yang dimilikinya, ia tetap sederhana. Ia masih tinggal di apartemen sewaan dan di kamarnya hanya tersedia sebuah meja dan kursi. Kasurnya diletakkan di lantai. Kala datang ke kantornya di Palo Alto, Zuckerberg kerap berjalan kaki atau mengendarai sepeda. Tak tampak sebagai miliuner (dalam US$ dollar, tentunya) atau triliuner (dalam rupiah)


salam sukses!
follow twitter saya ya @inspirasi_mulia

Sabtu, 26 Januari 2013

Kisah Sukses Donald Trump, Pebisnis sukses di amerika sekaligus selebriti dunia


Donald John Trump (lahir di New York City, New York, 14 Juni 1946; umur 66 tahun) adalah seorang wirausahawan, pionir program pertelevisian dan pebisnis yang sukses dari Amerika Serikat. Saat berusia 13 tahun, orang tuanya mengirim ke sekolah militer New York dengan harapan energinya tersalurkan secara langsung dan dia bisa menjadi orang yang tegas yang selalu berbicara dengan baik.

Kisah sukses

Trump memulai kariernya di perusahaan ayahnya, The Trump Organization yang berkonsentrasi di bidang penyewaan rumah kelas menengah. Salah satu proyek pertamanya adalah merenovasi komplek apartemen Swifton Village di Cincinnati, Ohio. 
Trump mengubah komplek apartemen 1200 unit dan menaikkan tarif 66% menjadi 100%. Ketika menjual kembali Swifton Village seharga US$ 12 juta, Trump Organization meraup keuntungan sebesar US$ 6 juta.

Pada tahun 1970an, Trump mendapat keuntungan dari Pemerintah kota New York atas pembayaran pajak sebagai ganti krisis keuangan yang dihadapi Hotel Commodore. 
Trump juga sukses mengembangkan bidang properti untuk Javits Convention Center. Berkembangnya Javits Convention Center membuat Trump berurusan dengan pemerintah kota New York. Salah satu proyeknya yang bernilai US$ 110 juta ternyata membuat New York membayar antara US$ 750 juta hingga US$ 1 milyar. Trump menawarkan untuk mengganti rugi proyek itu tapi tawarannya ditolak.

Keadaan yang serupa terjadi ketika New York berusaha untuk merenovasi Wollman Rink di Central Park. Sebuah proyek di tahun 1980 yang ditagetkan selesai dalam 2,5 tahun, tetapi hingga tahun 1986 dan US$ 12 juta telah dikeluarkan proyek belum selesai. Trump menawarkan untuk menangani proyek itu dan dia menyelesaikannya dalam waktu 6 bulan dengan dana hanya US$ 2,750,000. Menariknya, selama awal tahun 1980an, Trump mengambil alih usaha jasa Roy Cohn, kepala Senat Komite Permanen pada Penyelidikan ( Senate Permanent Subcommittee on Investigations).


Resesi dan kebangkrutan


Pada tahun 1990, sebagai dampak dari resesi, Trump kesulitan membayar utangnya. Ia dihadapkan pada masalah pembayar pinjaman atas kasino ketiganya yaitu Taj Mahal yang setara dengan 1 milyar dollar dengan bunga sangat tinggi. 
Meski ia harus mempertahankan bisnisnya dengan tambahan pinjaman dan menunda pembayaran bunga pinjaman, pada tahun 1991 melonjaknya hutang membuat bisnisnya mengalami kemunduran yang besar. Bank -bank telah kehilangan ratusan juta dollar.

Pada tanggal 2 November 1992, Trump Plaza Hotel terpaksa merencanakan paket perlindungan dari kebangkrutan setelah tidak mampu membayar tunggakan pinjaman. Dalam rencananya, Trump bersedia untuk memberikan 49 persen saham dari Hotel mewah tersebut. Kepada Citibank dan 5 penyandang dana lainnya. Namun sebaliknya, Trump menerima keadaan yang lebih baik yaitu menjabat posisi sebagai Chief Executive, meski tanpa bayaran.

Pada tahun 1994, Trump kehilangan 900 juta dollar dari rekening pribadinya dan kerugian drastis pada sektor bisnis sebesar 3,5 milyar dollar. Ketika dia dipaksa untuk meninggalkan Trump Shuttle, dia diharuskan untuk mengurus Trump Tower di New York City dan mengontrol 3 buah kasino di Atlantic City. 
Chase Manhattan Bank yang telah meminjamkan uang kepada Trump untuk membeli West Side Yards, yang merupakan parsel Manhattan terbesarnya, terpaksa harus dijual kepada pengembang-pengembang di Asia.

Menurut anggota pembentuk Organisasi Trump, Trump tidak mengembalikan semua kepemilikan atas Real Estate. Para pemilik berjanji untuk memberikan 30 persen dari keuntungan manakala bangunan-bangunan tersebut selesai dikembangkan atau terjual. Hingga masa itu, para pemilik menginginkan apa yang telah Trump lakukan yaitu membangun kerja. Mereka kemudian memberikan model konstruksi terbaru dan dana manajemen untuk mempercepat pembangunan.


Di media

Donald Trump telah muncul di media dengan versi karikatur di seri-seri televisi dan film-film seperti Home Alone 2, The Nanny, The Fresh Prince of Bel Air, Pays of Our live dan sebagai karakter dia sendiri adalah The Little Rascals, serta menjadi bintang tamu acara-acara talk show.

Tahun 2004, Trump menjadi produser eksekutif dan pembawa acara di NBC acara realitas, The Apprentice, yang mana keduanya merupakan persaingan grup manajemen kelas atas. Kontestan ada yang dipecat atau terminasi dari permainan. Pemenang dari permainan ini akan dikontrak selama 1 tahun di perusahaan Trump dengan gaji 250 ribu dollar. Untuk satu tahun pertama, Trump mendapat beyaran sebesar 50.000 dollar per episode, namun karena acara tersebut sukses, ia kemudian dibayar 3 juta dollar per episode, dan ini menjadi orang pertelevisian dengan bayaran tertinggi. Pada tahun 2007 Trump mendapat penghargaan atas program The Apprentice dengan menerima sebuah bintang di Hollywood Walk of Fame.

Trump juga dikenal sebagai penggemar Wrestling Entertaintment. Dia menjadi pembawa acara di Wrestles Mania IV dan V di Trump Palza, dan juga menampilkan beberapa selebritis pada acara Wresles Mania VII dan XX. Trump juga terlibat dalam acara WWE yang kemudian dikenal dengan “Perang Milyarder”. Cerita ini berawal ketika Trump mengumbar kata-kata bahwa ia dapat mengalahkan pemilik WWE, Vince McMahon dengan segala kemampuan. McMahon menjadi geram dan ia ingin bertarung dngan Trump satu lawan satu. Tapi keduanya sepakat untuk bertarung melalui pegulat mereka dalam acara Wrestle Mania 23. trump menunjuk Bobby Lashley sebagai petarung untuk melawan petarung McMahon, Umaga.

Organisasi Miss Universes dimiliki oleh Trump dan NBC. Organisasi ini memproduksi Miss Universe, Miss USA dan Miss Teen USA. Tahun 2005, Trump meluncurkan sebuah perusahaan pendidikan bisnis yang bernama Trump University. Pada suatu ketika Trump juga meluncurkan perusahaan-perusahaan yang ia beri nama Trump Buffet, Trump Catering dan Trump ice Cream Parlor. Januari 2006, Trump meluncurkan sebuah web side perjalanan online, GoTrump.com. Webside ini berisikan beberpa properti milik Trump seperti hotel dan biro-biro perjalan.


Salam Sukses!
follow twitter saya ya: @inspirasi_mulia